Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah kemana aku tak tahu
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-abad
Tampilkan postingan dengan label Puisi Terkenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Terkenal. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Juli 2011
Sabtu, 02 Juli 2011
Nyanyian Syiking
‘Wah!’, kesahnya, ‘kau
dengar ayam jantan, ia
memanggil?’
‘Tidak’, jawabnya,
‘Tidak, malam kelam dan
tinggi,
Bukan itu kokok ayam,
kekasihku’
dengar ayam jantan, ia
memanggil?’
‘Tidak’, jawabnya,
‘Tidak, malam kelam dan
tinggi,
Bukan itu kokok ayam,
kekasihku’
Nyanyian Jallaludin El Rumi
Jangan disalahkan dunia
karena belenggumu,
Sebab banyakan mawar
dari duri.
Jangan disebutkan dunia
ini penjara,
Karena inginmu itulah
yang membangunkan
duka.
Jangan pula tanyakan
penghabisan rahasia,
karena belenggumu,
Sebab banyakan mawar
dari duri.
Jangan disebutkan dunia
ini penjara,
Karena inginmu itulah
yang membangunkan
duka.
Jangan pula tanyakan
penghabisan rahasia,
Nyanyian Farid
Farid, jika manusia
memukul senda
Jangan memukul pula
Cium kakinya
Lalu …
Dan lupa …
Keduanya …
Yang menjadikan
terkandung
memukul senda
Jangan memukul pula
Cium kakinya
Lalu …
Dan lupa …
Keduanya …
Yang menjadikan
terkandung
Nyanyian Kabir II
Ceritakan, undanku,
kabaranmu kawi
Dari mana datangmu?
Kemana terbangmu?
Di mana engkau berhenti
melipat sayapmu?
Pada siapa engkau
nyanyikan laguan
malammu?
kabaranmu kawi
Dari mana datangmu?
Kemana terbangmu?
Di mana engkau berhenti
melipat sayapmu?
Pada siapa engkau
nyanyikan laguan
malammu?
Nyanyian Kabir I
Hatiku, hatiku, Sukma
segala sukma
Hatiku, hatiku, Guru
segala guru
Telah hampir
Bangkit, bangkit hatiku
dan kucup
KakiNya
segala sukma
Hatiku, hatiku, Guru
segala guru
Telah hampir
Bangkit, bangkit hatiku
dan kucup
KakiNya
Nyanyian Mirai - Bai
Pada kala aku
mengambil air dari
sungai Yamuna,
Dipandang Krishna senda
Dengan mataNya yang
raya
Tertawa bertanya
Kendiku telungkup aku
pun lalu
Penuh heran dan ragu
Semenjak itu semayam Ia
dalam kalbuku
mengambil air dari
sungai Yamuna,
Dipandang Krishna senda
Dengan mataNya yang
raya
Tertawa bertanya
Kendiku telungkup aku
pun lalu
Penuh heran dan ragu
Semenjak itu semayam Ia
dalam kalbuku
Hanyut Aku
Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
Ulurkan tanganmu,
tolong aku.
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan,
tiada angin mendingin
hati,
Tiada air menolak
ngelak.
Dahagaku kasihmu,
hauskan bisikmu,
Hanyut aku!
Ulurkan tanganmu,
tolong aku.
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan,
tiada angin mendingin
hati,
Tiada air menolak
ngelak.
Dahagaku kasihmu,
hauskan bisikmu,
Doa
Dengan apakah
kubandingkan
pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja samar
sepoi,
Pada masa purnama
meningkat naik,
Setelah menghalaukan
panas terik.
Angin malam
menghembus lemah,
kubandingkan
pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja samar
sepoi,
Pada masa purnama
meningkat naik,
Setelah menghalaukan
panas terik.
Angin malam
menghembus lemah,
Memuji Dikau
Kalau aku memuji Dikau,
Dengan mulut tertutup,
mata tertutup,
Sujudlah segalaku, diam
terbelam,
Di dalam kalam asmara
raya.
Turun kekasihmu,
Mendapatkan daku
duduk bersepi, sunyi
sendiri.
Dikucupnya bibirku,
Dengan mulut tertutup,
mata tertutup,
Sujudlah segalaku, diam
terbelam,
Di dalam kalam asmara
raya.
Turun kekasihmu,
Mendapatkan daku
duduk bersepi, sunyi
sendiri.
Dikucupnya bibirku,
Panji Di Hadapanku
Kau kibarkan panji di
hadapanku.
Hijau jernih di ampu
tongkat mutu-mutiara.
Di kananku berjalan,
mengiring perlahan,
Ridlamu rata, dua
sebaya,
Putih-putih, penuh
melimpah, kasih persih.
Gelap-gelap kami
berempat,
hadapanku.
Hijau jernih di ampu
tongkat mutu-mutiara.
Di kananku berjalan,
mengiring perlahan,
Ridlamu rata, dua
sebaya,
Putih-putih, penuh
melimpah, kasih persih.
Gelap-gelap kami
berempat,
Kurnia
Kau kurniai aku,
Kelereng kaca cerah
cuaca,
Hikmat raya tersembunyi
dalamnya,
Jua bahaya dikandung
kurnia, jampi kau beri,
Menundukkan kepala
naga angkara.
Kelereng kaca kilauan
kasih,
Kelereng kaca cerah
cuaca,
Hikmat raya tersembunyi
dalamnya,
Jua bahaya dikandung
kurnia, jampi kau beri,
Menundukkan kepala
naga angkara.
Kelereng kaca kilauan
kasih,
Mengawan
Rengang aku daripadaku,
mengikut kawalku
mengawan naik.
Mewajah kebawah,
terlentang aku, lemah
lunak,
Kotor terhampar, paduan
benda empat perkara.
Datang pikiran
membentang kenang,
Membunga cahaya cuaca
lampau,
mengikut kawalku
mengawan naik.
Mewajah kebawah,
terlentang aku, lemah
lunak,
Kotor terhampar, paduan
benda empat perkara.
Datang pikiran
membentang kenang,
Membunga cahaya cuaca
lampau,
Nyanyian Mesir Purba
Kurnia kami, hari
berbuahkan rahman,
Berbungakan suka.
Penghulu segala dewa!
Marahlah tuan dan lihat.
Urap dan menyan kami
persembahkan
Kusuma dan bakung
pedandan leher
Dinda tuan intan
rupawan,
berbuahkan rahman,
Berbungakan suka.
Penghulu segala dewa!
Marahlah tuan dan lihat.
Urap dan menyan kami
persembahkan
Kusuma dan bakung
pedandan leher
Dinda tuan intan
rupawan,
Rabu, 01 Juni 2011
Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Jumat, 11 Maret 2011
Yang terampas dan yang putus
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
Menggigir juga ruang dimana dia yang ku inginkan
Malam tambah merasuk,rimba jadi semati tugu
Di karet,di karet (daerahku y.a.d.)sampai juga deru dingin
Menggigir juga ruang dimana dia yang ku inginkan
Malam tambah merasuk,rimba jadi semati tugu
Di karet,di karet (daerahku y.a.d.)sampai juga deru dingin
Rabu, 09 Maret 2011
Abdul Muluk
Telah sudah baginda berperi
Berangkat ke luar mahkota negeri
Serta sampai ke balairung
Didapati hadir sekalian menteri
Lalulah bertitah baginda sultan
Kepada mansur wazir pilihan
Berhadirlah kakanda alat pekerjaan
Abdul muluk hendak dikawinkan
Berangkat ke luar mahkota negeri
Serta sampai ke balairung
Didapati hadir sekalian menteri
Lalulah bertitah baginda sultan
Kepada mansur wazir pilihan
Berhadirlah kakanda alat pekerjaan
Abdul muluk hendak dikawinkan
Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis,merdu
Antara gundukan pohonan pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang - tangkubanprahu
Jamrut di pucuk - pucuk
Jamrut di air tipis menurun
Antara gundukan pohonan pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang - tangkubanprahu
Jamrut di pucuk - pucuk
Jamrut di air tipis menurun
Sajak
O,bukannya dalam kata yang rancak
Kata yang pelik kebagusan sajak
O,pujangga,buang segala kata
Yang kan cuma mempermainkan mata
Dan hanya dibaca selintas lalu
Karena tak keluar sukma
Kata yang pelik kebagusan sajak
O,pujangga,buang segala kata
Yang kan cuma mempermainkan mata
Dan hanya dibaca selintas lalu
Karena tak keluar sukma
Sajak
Sajak ialah kenangan yang tercinta
Mencari jejakmu,di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
Lewat bukit dan lembah
Dan kadang tertegun tiba-tiba
Membaca jejak kakimu di sana
Mencari jejakmu,di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
Lewat bukit dan lembah
Dan kadang tertegun tiba-tiba
Membaca jejak kakimu di sana
Langganan:
Postingan (Atom)